Wednesday, 12 November 2014

Download Image Google Menggunakan GMS (Google Map Server)

Selain menggunakan fasilitas SCREENGRAB, download image hires di Google Maps bisa juga dilakukan dengan menggunakan fasilitas GMS (Google Map Server). Info lengkapnya bisa dilihat DISINI.

Kelebihan menggunakan GMS adalah banyaknya pilihan fasilitas saat saving image yang tersedia dalam satu layar. Diantaranya pilihan resolusi image yang akan didownload dan zoom factor yang menentukan kedetilan gambar. 

Berikut langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk melakukan download:
1. Download GMS yang ada pada website ini : http://www.codres.de/google-map-saver
2. GMS ini langsung bisa di RUN tanpa installasi.
3. Ketikkan nama lokasi di kotak Location/POI (Point Of Interest)



4. Pilih resolusi yang diinginkan. Perlu diingat ini hanyalah resolusi perkiraan saja. Tidak memiliki nilai presisi yang bagus. Makin besar resolusi yang dipilih, makin panjang dan lebar image yang akan dicapture. Namun hal ini bergantung pada besaran memori pada komputer anda. Makin besar resolusi makin besar pula memori komputer yang diperlukan. Sebagai contoh disini saya hanya sanggup meng-capture resolusi Big 5000 x 5000. Nyobain yang lebih gede komputer langsung ngambeuuuk. Hehehe.

Ngintip Image Hires di HERE MAPS

Gegara ada teman yang minta dibantuin cari peta penggunaan lahan di beberapa desa di Pulau Siberut Sumatera Barat, untuk keperluan tesisnya, jadilah saya putar-putar search engine di google. Ketersediaan data landcover untuk Pulau Siberut sebenarnya ada. Namun data yang dipakai adalah data Landsat 5 TM (dengan resolusi spasial 30 meter) dan ALOS Avnir-2 (dengan resolusi spasial 10 meter). Sementara yang dibutuhkan oleh teman saya itu adalah data kenampakan "ladang sagu".


Untuk di beberapa wilayah, kenampakan image hires di Google Earth sudah bisa diandalkan. Namun tidak untuk Pulau Siberut. Citra Satelit Landsat 8 aja full awan sepanjang tahun 2014 ini. Dan dari dulu Pulau Siberut emang terkenal full awan di berbagai jenis citra satelit.

Thursday, 16 October 2014

Sekilas Pandangan Mata Untuk Besitang

Di Koran Minggu Pagi, dulu waktu masih remaja, saya suka sekali mencari perbedaan di dua gambar yang hampir mirip. Sekilas sama, tapi ada beberapa items yang terletak perbedaan-perbedaannya. Biasanya berjudul "temukan 5 perbedaan pada gambar di bawah ini".

Setelah dewasa (baca: tua), sekarang sukanya iseng mencari perbedaan penampakan di beberapa citra satelit. Terutama di lokasi-lokasi yang emang "HOT" menjadi langganan perubahan tutupan lahan. Karena dulu pernah kerja untuk Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), maka BESITANG adalah lokasi HOT tersebut. Di tahun 1990, kawasan hutan di Besitang masih ijo royo-royo. Hingga datanglah permasalahan yang sangat komplek, rumit, pelik, sulit bahkan menegangkan (kawan-kawan di TNGL pasti paham akan hal ini). 

Tahun 2004, karena keelokannya TNGL masuk dalam list Warisan Dunia. Tak lama waktu berlalu, sudah masuk dalam Danger List di 2011. Salah satu sebab utamanya ya Perambahan Hutan dan Illegal Logging. Hingga kini, upaya-upaya pengembalian status Warisan Dunia terus diusahakan. Pemerintah dibantu oleh pihak NGOs, UN, Swasta hingga masyarakat bahu-membahu memulihkan statusnya.

Namun demikian, terlepas dari itu semua sebagai tukang iseng melihat yang hot-hot, kemaren sore iseng download Landsat 8 tahun 2014 yang tersedia gratis di USGS. Sementara saya sudah ada Landsat 5 tahun 2009. 


Mulai deh cari-cari mana yang beda. Dalam kurun waktu 5 tahun, nampak sekali perubahan dasyat dari hutan ke non hutan (lihat 3 lingkaran dalam gambar). Dalam hal ini saya sendiri gak punya kapasitas untuk banyak ngemeng. Para ahli hutan, ahli kebijakan, ahli hukum dan ahli segala-galanya  pastinya lebih mengerti.

Friday, 2 May 2014

Download Landsat 8 Melalui Glovis USGS

Sebelumnya saya pernah menuliskan cara mendownload Landsat 8 menggunakan Landsat Look Viewer DISINI. Ada cara lainnya yang menurut saya lebih mudah dan praktis. Yaitu melalui GLOVIS. Lebih mudah karena kita bisa secara langsung melihat previewnya.

Berikut caranya:

1. Buka website Glovis di http://glovis.usgs.gov/. Pastikan anda sudah meng-install Software Java dan sudah memiliki akun di USGS


2. Cek ketersediaan data di Scene Information. Lihat juga detail informasinya, seperti prosentase tutupan awan dan tanggal akuisisi. Pastikan ada tulisan "Downloadable" di pojok kiri atas. Sebagai contoh saya akan mendownload sebagian wilayah Lampung.


Wednesday, 23 April 2014

Ada 97 Pipa Di Sepanjang Kali Progo

Sejak erupsi Merapi tahun 2010, Kali Progo mendapatkan berkah yang luarbiasa berupa pasir dengan kualitas wahid. Hulu Kali Progo memang bukanlah Merapi, melainkan Sumbing dan Sindoro yang ada di Jawa Tengah. Namun aliran lahar dari Merapi juga banyak yang bermuara di Kali Progo. Sudah sejak lama aktivitas penambangan pasir di sepanjang Kali Progo menjadi tumpuan mata pencaharian warga disekitarnya. Saya masih ingat waktu kecil, kalau mengumpulkan pasir itu ya secara manual. Dikumpulkan menggunakan senggrong hingga membukit, kemudian ditaruh kedalam bak truk secara manual pula.

Fenomena mengumpulkan pasir menggunakan senggrong sudah berganti. Sejak akhir tahun 2012 masyarakat Kali Progo seakan berlomba-lomba menambang pasir dengan peralatan yang lebih canggih yaitu menggunakan mesin diesel untuk menyedot pasir. Kalo dulu dalam bayangan saya pipa-pipa dalam pompa itu hanya mengalirkan air namun sekarang bisa mengalirkan pasir juga. Amazing! Di tempat saya pernah ada sekelompok warga yang membuat penambangan pasir secara bersama. Karena modal penambangan pasir modern ini membutuhkan modal yang tak sedikit. Untuk membeli pompa, pipa dan sebagainya. Namun pada akhirnya kelompok penambang pasir tersebut bubar juga. Seperti biasanya, usaha bersama memang jarang bisa bertahan lama. Namun usaha tambang pasir secara personal makin tumbuh disana-sini.

Beberapa minggu lalu saya cek Google Earth, ternyata hampir seluruh wilayah sepanjang Kali Progo sudah ter-cover oleh Citra Satelit beresolusi tinggi dari CNES dengan update terakhir tanggal 9 September 2013. Fenomena menarik yang saya tangkap adalah munculnya kenampakan jalur-jalur pipa di sepanjang Kali Progo. Jumlahnya puluhan!



Wednesday, 16 April 2014

Download Image Resolusi Tinggi dari "New Google Maps" Menggunakan ScreenGrab (Bagian 2)

Sejak Maret 2014, tools "Customize and Preview Embedded Map" menghilang dari Google Maps. Hal ini saya ketahui dari seorang pembaca Tukang Peta yang menanyakan kenapa ga bisa download image dari Google lagi (Terimakasih buat Mas Ajun Purwanto). Setelah saya cek memang benar demikian adanya. Agak panik juga jadinya, karena bagi saya tools "Customize and Preview Embedded Map" ini sangatlah sakti  keberadaannya. Mulailah saya utak-utek Google Map, searching sana-sini. Dan hanya menemukan DIALOG INI.

Setelah saya coba-coba, akhirnya ketemu juga caranya, yaitu :
1. Pastikan anda mempunyai akun di Google dan telah meng-install Screengrab
2. Buka Google Maps : https://maps.google.com/

3. Klik "My Places"


4. Zoom wilayah yang ingin anda download (sebagai contoh saya akan mendownload wilayah Waduk Sermo di Kulon Progo)
5. Klik "Create with classic My Maps"

Skala Peta Vs Resolusi Raster

Seperti yang sudah kita pahami, skala adalah perbedaan relatif ukuran/jarak antara fitur dalam gambar (peta) dengan fitur yang sebenarnya ada di lapangan. Sebagai contoh skala 1 : 50.000, diartikan bahwa setiap satu unit di peta mewakili 50.000 unit di lapangan. Unit tersebut biasanya dalam satuan inchi atau centimeter. Sementara resolusi pixel adalah ukuran area di lapangan yang dapat terwakili dalam 1 pixel.

Data raster biasanya tidak dikaitkan dengan skala tertentu, meskipun resolusi raster juga merupakan indikasi kedetilan citra satelit. Menurut blog di ESRI, kita dapat mengalikan ukuran pixel (dalam meter) dengan angka 2000 untuk mengetahui tingkat skala yang paling rinci/sesuai. Sebagai contoh sebuah citra satelit mempunyai resolusi spasial 30 meter, maka data tersebut bisa dilihat detil dalam tingkat skala 1 : 60.000. Namun pada prakteknya banyak orang yang menggunakan resolusi 30 meter untuk tingkat skala yang kurang rinci, misalnya skala 1 : 100.000.

Berikut tabel kesesuaian resolusi raster dengan tingkatan skala peta :

Raster Resolution
(in meters)
Detectable size
(in meters)
Map Scale
0.5
1
1 : 1000
2.5
5
1 : 5000
5
10
1 : 10.000
25
50
1 : 50.000
50
100
1 : 100.000
125
250
1 : 250.000
250
500
1 : 500.000
500
1000
1 : 1.000.000

Untuk lebih mudahnya bisa dihitung dengan rumus sederhana berikut ini:

Skala Peta = Resolusi Raster x 2 x 1000

Demikianlah. 
Salam Peta

Sumber :


Tuesday, 18 March 2014

Menghitung Luas Area di Google Earth Menggunakan Earth Point

Saat ini data yang ditampilkan oleh Google Earth, disebagian wilayah mempunyai data dengan resolusi tinggi. Tentunya tampilan data ini sangat bermanfaat sekali untuk melakukan preview dan quick analysis. Sebagai contoh kita akan mencermati perkembangan tutupan lahan dalam suatu wilayah hutan lindung ataupun wilayah taman nasional. Data hires (high resolution) yang dipakai oleh Google Earth adalah data Ikonos, World View, QuickBird dan Geo Eye dengan resolusi dari 1 meter hingga 0.5 meter.

Dengan resolusi sebesar itu dengan mudah kita bisa mencermati penampakan encroachment, logging area, logging road, longsor, jalan setapak dan sebagainya. Selain informasi lokasi dalam bentuk koordinat, kita juga mengetahui luasan area yang kita identifikasi secara cepat. Berikut caranya :

1. Buka Google Earth. Tampilkan batas kawasan lindungnya. Sebagai contoh saya menampilkan batas Taman Nasional Lorentz yang ada di Papua. Dengan demikian kita bisa tahu wilayah yang dicurigai tersebut ada di dalam atau diluar.


2. Zoom in wilayah yang mempunyai image dengan resolusi tinggi. Mulailah mengidentifikasi. Sebagai contoh saya menemukan tanah terbuka yang ada disebuah tebing.

Thursday, 6 March 2014

Konversi data KML Menjadi Shapefile (KML to SHP) Menggunakan DNR Garmin

Ada kalanya kita mendapatkan data spasial yang mempunyai format KML, yaitu format data yang bisa dibuka menggunakan Google Earth. Untuk menampilkan data KML ke dalam ArcMap harus dikonversi dahulu menjadi data SHP. Ada beberapa cara untuk melakukan konversi KML to SHP. Sepanjang yang saya tahu diantaranya adalah :

1. Bisa langsung dilakukan di ArcGIS 10.x (kapan-kapan saya tuliskan caranya)
2. Menggunakan ekstensi KML_to_SHP untuk ArcGIS 9.2.x
3. Menggunakan software online kml2shp

Kemaren saya mencoba menggunakan cara ke 2 dan 3, namun GAGAL!  Alhasil saya iseng memanfaatkan keberadaan software DNR Garmin. Ternyata BERHASIL! Dan langkahnya juga lebih simpel. Caranya :

1. Download data KML yang tersedia. Sebagai contoh saya mendownload data Tutupan Lahan wilayah Jawa Timur yang ada di WebGIS Kehutanan
2. Buka data KML di Google Earth. Klik kanan, Save Place As.


Tuesday, 4 March 2014

Download Data Tutupan Lahan Seluruh Indonesia dari WebGIS Kehutanan

Ketersediaan data di WebGIS Kehutanan ini sudah pernah saya bahas dua kali yaitu di :

1. Misteriusnya Data Tutupan Lahan dari Dirjen Planologi Kehutanan
2. Misteriusnya Data Tutupan Lahan dari Dirjen Planologi Kehutanan (Bagian 2) 

Walaupun masih menyisakan tanda tanya besar, namun ketersediaan data dalam WebGIS tersebut memberikan harapan dan angin segar bagi para pemburu data gratis untuk tujuan yang beraneka rupa.  Untuk mendapatkan datanya pun sangatlah mudah, yaitu :

1. Buka WebGIS Kehutanan pada link : http://appgis.dephut.go.id/appgis/


P O P U L A R