Showing posts with label Pendapat Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Pendapat Pribadi. Show all posts

Tuesday, 3 November 2015

Kali Progo-ku, Dulu dan Kini

Bukan bermaksud apa-apa, dan bukan karena apa-apa saya menuliskan ini. Hanya karena kecintaan saya saja terhadap kali (sungai) dibelakang rumah, tempat dan saksi banyak kenangan manis sejak saya masih kecil. Dari kecil, Kali Progo merupakan "kidzone" buat saya. Maklum, jaman dulu mana kenal saya dengan mandi bola, main trampolin atau permainan ber-koin di mall. Begitu banyaknya kisah-kisah manis yang saya alami di kali progo, bahkan sampai kisah tragis. Saking bandelnya waktu kecil dulu, saya pernah dua kali hampir mati karena tenggelam dan terseret arus kali progo. 

Mungkin anak jaman sekarang, sudah jarang sekali yang mengalami gimana asiknya nyari udang dibalik batuan kali progo, atau mencari ikan dibawah pasir kali. Kalau dulu istilahnya "gogoh iwak boso". Sekarangpun sepertinya species "iwak boso" sudah gak ada lagi di kali. Dulu setelah udang didapat, dikasih garam, dimasukkan daun jati dan dibakar dengan daun jati yang kering. Kadang cukup ditimbun dibawah pasir kering yang panas. Itupun sudah mateng dan lezat dimakan. 

Tiap saya marah dengan ibu saya, pelarian saya ke kali progo. Mlayu-mlayu sambil nangis, hingga ibu sayapun kelelahan mengejarnya. Dahulu, kalau musim kemarau tiba, dan sumur-sumur pada asat, kami gak pernah galau, tinggal jalan sebentar, mandi, kramas, sabunan, sikat gigi dan nyuci di kali sambil ceciblon. Dulu teman setia saya pergi ke kali selain bapak saya adalah alm. simbah kakung saya. Dua orang itu gak bisa mandi dan BAB kalau gak ke kali. Bahkan, sampai sekarang bapak saya masih sesekali mandi di kali.

 (Berdasar data GoogleEarth, inilah kali belakang rumah saya, di beberapa tahun terakhir terlihat sekali perubahannya. Dari yang masih nampak hamparan pasir, hingga terlihat bocel-bocel akibat tambang pasir secara masif)

Thursday, 16 October 2014

Sekilas Pandangan Mata Untuk Besitang

Di Koran Minggu Pagi, dulu waktu masih remaja, saya suka sekali mencari perbedaan di dua gambar yang hampir mirip. Sekilas sama, tapi ada beberapa items yang terletak perbedaan-perbedaannya. Biasanya berjudul "temukan 5 perbedaan pada gambar di bawah ini".

Setelah dewasa (baca: tua), sekarang sukanya iseng mencari perbedaan penampakan di beberapa citra satelit. Terutama di lokasi-lokasi yang emang "HOT" menjadi langganan perubahan tutupan lahan. Karena dulu pernah kerja untuk Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), maka BESITANG adalah lokasi HOT tersebut. Di tahun 1990, kawasan hutan di Besitang masih ijo royo-royo. Hingga datanglah permasalahan yang sangat komplek, rumit, pelik, sulit bahkan menegangkan (kawan-kawan di TNGL pasti paham akan hal ini). 

Tahun 2004, karena keelokannya TNGL masuk dalam list Warisan Dunia. Tak lama waktu berlalu, sudah masuk dalam Danger List di 2011. Salah satu sebab utamanya ya Perambahan Hutan dan Illegal Logging. Hingga kini, upaya-upaya pengembalian status Warisan Dunia terus diusahakan. Pemerintah dibantu oleh pihak NGOs, UN, Swasta hingga masyarakat bahu-membahu memulihkan statusnya.

Namun demikian, terlepas dari itu semua sebagai tukang iseng melihat yang hot-hot, kemaren sore iseng download Landsat 8 tahun 2014 yang tersedia gratis di USGS. Sementara saya sudah ada Landsat 5 tahun 2009. 


Mulai deh cari-cari mana yang beda. Dalam kurun waktu 5 tahun, nampak sekali perubahan dasyat dari hutan ke non hutan (lihat 3 lingkaran dalam gambar). Dalam hal ini saya sendiri gak punya kapasitas untuk banyak ngemeng. Para ahli hutan, ahli kebijakan, ahli hukum dan ahli segala-galanya  pastinya lebih mengerti.

Wednesday, 23 April 2014

Ada 97 Pipa Di Sepanjang Kali Progo

Sejak erupsi Merapi tahun 2010, Kali Progo mendapatkan berkah yang luarbiasa berupa pasir dengan kualitas wahid. Hulu Kali Progo memang bukanlah Merapi, melainkan Sumbing dan Sindoro yang ada di Jawa Tengah. Namun aliran lahar dari Merapi juga banyak yang bermuara di Kali Progo. Sudah sejak lama aktivitas penambangan pasir di sepanjang Kali Progo menjadi tumpuan mata pencaharian warga disekitarnya. Saya masih ingat waktu kecil, kalau mengumpulkan pasir itu ya secara manual. Dikumpulkan menggunakan senggrong hingga membukit, kemudian ditaruh kedalam bak truk secara manual pula.

Fenomena mengumpulkan pasir menggunakan senggrong sudah berganti. Sejak akhir tahun 2012 masyarakat Kali Progo seakan berlomba-lomba menambang pasir dengan peralatan yang lebih canggih yaitu menggunakan mesin diesel untuk menyedot pasir. Kalo dulu dalam bayangan saya pipa-pipa dalam pompa itu hanya mengalirkan air namun sekarang bisa mengalirkan pasir juga. Amazing! Di tempat saya pernah ada sekelompok warga yang membuat penambangan pasir secara bersama. Karena modal penambangan pasir modern ini membutuhkan modal yang tak sedikit. Untuk membeli pompa, pipa dan sebagainya. Namun pada akhirnya kelompok penambang pasir tersebut bubar juga. Seperti biasanya, usaha bersama memang jarang bisa bertahan lama. Namun usaha tambang pasir secara personal makin tumbuh disana-sini.

Beberapa minggu lalu saya cek Google Earth, ternyata hampir seluruh wilayah sepanjang Kali Progo sudah ter-cover oleh Citra Satelit beresolusi tinggi dari CNES dengan update terakhir tanggal 9 September 2013. Fenomena menarik yang saya tangkap adalah munculnya kenampakan jalur-jalur pipa di sepanjang Kali Progo. Jumlahnya puluhan!



P O P U L A R